Selasa, 05 April 2011

Beberapa Puisi-Puisi Satries di Kumpulan PENJAGA DIAN



CUACA MEMELAS

beginilah cuaca memainkan hatiku
di saat seekor kelelawar
mengepakkan sayap pengeluhannya
karena hidup mesti dimaknai jua
karena derita mesti dialami jua
karena resah mesti dirasai jua
karena gundah gulana mesti digauli jua
karena nelangsa mesti diresapi jua
beginilah cuaca memainkan melodinya
di saat tak satupun lagu
yang bisa kunyanyikan untuknya


LINTASAN

lelah waktu
goreskan kisah
ada petualangan
yang masih terus
berjalan
mungkin cermin hati
yang dilimbur angin
menempa zaman


MALAM

gundahku datang padamu
menyuarakan kelam jiwaku
dalam perenungan panjangku
tiba – tiba terdengar bunyi jatuh
kucing berebut mangsa
membangunkan anganku
untuk merebut mimpiku


SUARA

suara menyuara resah
suara menyuara gelisah
suara menyuara duka
suara menyuara luka
suara menyuara derita
suara menyuara papa
aku kehilangan suara


PEREMPUANKU

desah nafas angin
lewat di hidungmu
hembusan angan
mencapai pelabuhanku

SEJUMLAH KONTROVERSI HADIAH SENI (SASTRA)

: Hudan Nur)*


“Budi Palopo dapat hadiah seni dari gubernur. Tahun depan aku njagoin Lan Fang. Tahun depannya lagi Tjahjono Widianto terus A. Muttaqin, S. Yoga ==> lha kok klik DKJT semua ya? Politiknya kayak TUK ya… atau sama juga DKL. Wah politicking jadi virus juga di seni. Bencana nih!” (sms seorang teman)

NAMPAKNYA keberlangsungan sejarah sastra memang harus bertengkar dan berludah-ludah. Tidak hanya menyuarakan ketertindasan sosial tetapi juga bertengkar dengan koleganya. Sehingga penyasastra yang idealnya soliter cenderung berklik. Seperti Pramoedya Ananta Toer yang layak mendapatkan Ramon Magsasay bahkan Nobel dijegal karena dendam lama Taufik Ismail kala Pram berkuasa. Pun halnya Pablo Neruda di tahun 1964 saat ia menjadi petinggi Chile, ia tidak mendapat Nobel. Saat itu, Sartre sendiri mengakui Neruda-lah yang layak mendapatkan Nobel tetapi karena ada campur tangan CIA, Nobel diberikan kepada Sartre dan ia menolaknya.

Sejarah sastra memang identik dengan pertengkaran dalam arti sempit. Gabriel Garcia Marquez pernah ditonjok Mario Vargas Llosa, begitupun Chairil Anwar juga pernah ditonjok HB. Jassin. Kini pertengkaran diwarisi dengan sistem perkubuan atau istilah berklik. Sebut saja, klik Salihara atau klik TUK atau klik KSI dan lain-lain. Bahkan penghadiahan bidang seni, budaya, atau sastra berdasarkan sistem kolega dan berklik.

Ironisnya karya tidak lagi dinilai dari segi kualitas tetapi faktor-faktor lain yang bersifat kepentingan tertentu dan acapkali berhubungan dengan kekerabatan. Tentu hal ini tidak fear! Ada banyak sesi penghadiahan yang diberikan oleh petinggi daerah, SKPD tertentu yang menjadi kontroversi karena dinilai tertutup dalam menentukan si penerima anugrah atau hadiah. Sebut saja Dinas Budaya dan Pariwisata Propinsi Kalimantan Selatan dengan Anugrah Budayanya yang dinilai bagi sebagian kalangan hal ini ganjil. Idealnya sebuah hadiah diberikan dengan kriteria tertentu dan sistem penjurian oleh pihak yang kompeten. Sejauh ini, pihak panitia tidak pernah mengekspose dan terkesan tertutup.

Selama ini, hadiah seni (sastra) yang diberikan oleh gubernur juga tidak ditahu secara luas siapa-siapa yang menilai pun kriteria penilaian yang bagaimana hingga seorang mendapat hadiah sastra, sebab sastra bukan semata teks (aksi) tetapi juga gerakan (reaksi) sehingga bila ada kekeliruan di suatu waktu bisa dikoreksi. Sebagai contoh, seorang sastrawan asal Hulu Sungai Selatan, Aliman Syahrani (AS) yang pernah mendapatkan hadiah sastra dari Gubernur Kalimantan Selatan. Dan beberapa waktu terakhir mendapat koreksi atas karya-karyanya yang disinyalir memflagiat karya orang lain.

Dalam beberapa pertemuan rekan-rekan sejawat yang tidak disengaja, perbincangan menyoal keaslian karya dan sejumlah bukti-bukti selalu mengarah ke AS. Terakhir puisinya yang termasuk dalam Antologi Sastra Kalimantan Selatan di Tabalong tahun 2010 yang berjudul Pasar Terapung juga disebut-sebut memiliki persamaan dengan orang terdahulunya. Terlebih disebut-sebut, wajar saja kontroversi flagiator Noor Hidayah bisa menang wong jurinya juga seorang flagiat! Sangat memprihatinkan, bukan?

Sebagai contoh; “Setelah melakukan pengkajian dan menimbang berbagai masukan, cerpen Perempuan Tua dalam Rashomon tulisan Dadang Ari Murtono, yang dimuat Kompas Minggu (30/1) dinyatakan dicabut dan tidak pernah dimuat dengan berbagai alasan. Redaksi (dimuat Kompas Minggu 6 Februari 2011 hal.20).” Info Abdul Malik Mojokerto.

Barangkali hal beginilah yang seharusnya ditiru dalam khasanah penghadiahan seni (sastra) dan event sastra agar penulisnya tidak berulah lagi. Lalu bagaimana dengan AS yang terlanjur mendapat hadiah sastra namun belakangan disinyalir karyanya flagiat? Mungkin, kalau permulaan masih bisa ditorerir bagi sebagian kalangan, tetapi AS hingga 2010 memasukkan puisi Pasar Terapungnya dalam Antologi Aruh Sastra dan menjadi pergunjingan berbagai pihak.

Selain itu kontroversi serupa juga terjadi ketika Balai Bahasa Banjarmasin (BBB) yang setiap dua tahun sekali mengumumkan nama-nama yang mendapat award. Bagi sejumlah orang perorang kenapa tidak A, Kenapa harus B yang dapat? Kriterianya apa? Yang menilai siapa? Sebagian kalangan beranggapan masih ada yang lebih tepat untuk menerimanya jadi kenapa harus B, kenapa tidak A? Ada seorang tua berkata, bila ingin mendapat award serupa kita harus pro dan jangan pernah mengkritisi dalam bentuk apapun karena misi BBB hanya memberikan apresiasi terhadap orang yang berkiprah di dunianya, tanpa misi politik apapun. Dan sudah tentu adalah mereka yang sudah dikenal (dekat) berklik oleh BBB.

Begitu pula dengan Radar Banjarmasin Award (RBA) yang pertama kali digelar dipenghujung tahun 2010 yang lalu di kawasan Minggu Raya Banjarbaru, kenapa yang dapat adalah Sainul Hermawan dan Kayla Untara. Malahan seorang teman menyatakan “Wah bila Sainul saya sepakat, tetapi untuk Kayla saya belum punya referensi!” Isu yang beredar karena keduanya sering mengirimkan tulisan ke Radar Minggu. Hingga pada malam penganugrahan yang semestinya dihadiri ratusan simpatisan yang datang hanya sebagian kecil, itupun mereka yang berdomisili di Banjarbaru, yang lainnya tidak datang dengan alasan tidak tahu dan sebagian lagi berkonfrontasi (klik).

Padahal diluar kecenderungan like dan dislike ataupun klik di Kalimantan Selatan yang apriori, RBA (mungkin) ingin membangkitkan kelesuan sastra Koran bagi penulis lokal yang semakin ke depan semakin jarang mengekspose tulisannya. Tetapi, setelah ajang RBA itu, tidak terlihat ada implikasi positif dalam bentuk nominal apresiasi ke setiap penulis medianya begitu juga dengan halaman rubriknya yang tidak bertambah. Atau penulisnya yang sedikit hingga sampai sekarang rubriknya hanya satu halaman?

Euforia hadiah seni (sastra) di sejumlah penganugrahan hanya menjadi gondok dan pertanyaan bisu. Tidak ada penilaian secara kualitas yang digunakan dalam menilai, hanya pertanda bahwa eksistensinya dinilai ada. Selebihnya faktor kedekatan, kenal, dan klik. Itu saja!***

)*Koordinator Divisi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Hak-hak Budaya dan Sastra, Yayasan Tadulakota’

ANTOLOGI HASIL TEMU SASTRAWAN INDONESIA III DI TANJUNG PINANG,KEPRI




Kota Tanjungpinang merupakan salah satu pusat penting Kerajaan Melayu. Ia pernah menjadi menjadi gerbang Kerajaan Bintan sejak tahun 1673 Kerajaan Johor muncul gemilang di Hulu Sungai Carang – atau dikenal sebagai Sungai Riau. Pada masa itu dunia kalam, tulis-menulis berbagai ilmu pegetahuan, khususnya agama Islam dan sastra tumbuh subur. Maka dikenallaah nama pengarang Raja Ahmad dan Engku Putri Hamidah, anak Raja Haji Fisabilillah. Kepengarangan terus berlanjut sampai kepada Raja Ali Haji (anak Raja Ahmad dan merupakan cucu Raja Haji), Haji Ibrahim Datuk Kaya Muda Riau dan sampai kepada Aisyah Sulaiman Riau. Selepas itu, muncul Hasan Junus, Rida K. Liamsi, Sutardji Calzoum Bachri, Ibrahim Sattah, BM. Syamsuddin dan lain-lain sampai Suryatati A. Manan.
Buku Tanjungpinang Punya Cerita ini mencoba menghimpun cerpen dan puisi yang berlatar Kota Tanjungpinang karya sejumlah pengarang/penyair dari berbagai kota di tanah air. Mereka adalah Ahmadun Yosi Herfanda, Chavchay Syaifullah, Hudan Nur, Isbedi Stiawan ZS, Rida K. Liamsi, Sitok Srengenge, Tan Lioe Ie, Viddy AD Daery, Fakhrunnas MA Jabbar, Nanang Suryadi, Fahrudin Nasrulloh, Gus tf Sakai, Joni Ariadinata, M. Raudah Jambak, Raudal Tanjung Banua, dan Triyanto Triwikromo; di samping dari Tanjungpinang sendiri, Abdul Kadir Ibrahim dan Suryatati A Manan.
Ini bukan sekadar romantisme-kenangan, namun sebuah upaya membangkitkan kemungkinan kreatif dari sebuah kota, sekaligus mendokumentasikan pengalaman sastrawan atas kota yang hikmatinya. Karya sastra sebagai dokumentasi sosial niscaya menemukan persilangannya yang tepat: ia merekm jejak pergulatan Kota Tanjungpinang, dulu, sekarang dan masa datang.

MORA'ATANA MORA'ABINANGGA

MATRA KOMPLEKSITAS PADA NERACA KEHIDUPAN ORANG KAILI
: Hudan Nur


Sulawesi Tengah khususnya Palu memiliki ragam tersendiri untuk menjaga keseimbangan alam seiring perjalanan bumi yang semakin menua. Diakui atau tidak, Palu (masih) beranjak remaja ke arah Megapolitan. Terlepas dari adat dan keseharian orang kaili, Kota Teluk Palu memiliki eksotitas yang khas dibandingkan daerah lain di Indonesia (umumnya) sebab Palu terlahir dari alam yang membentangkan pantai, lembah, dan gunung. Kecantikan Palu yang adanya mau (tidak mau) lambat laun tercemar oleh peradaban manusia yang semakin berkembang, kini Palu mulai mengenal lipstik dan beberapa jenis kosmetik luar. Kota ini terhunus kemajuan, ditambah lagi manusia yang makin egois dalam memanfaatkan alam.
Kehidupan terus bergulir seiring perputaran zaman, ada kalanya manusia berada di puncak tertinggi dan ada kalanya terluncur ke jurang nista. Orang kaili sebagai penduduk asli di Palu percaya harus ada ritual yang dilaksanakan untuk membumikan bala yang sengaja (tidak) dilakukan manusia di muka bumi. Dikenal, matra peringatan bagi manusia untuk tanah dan air sebagai sumber terpenting dalam berkehidupan.
Ritual orang kaili berlaku apabila ada ombu nungata yakni sebuah pemberlakuan ketika ada hal-hal yang merusak alam yang dilakukan manusia, ini merupakan hukum desa dalam melaksanakan nuada atau hukum adat. Ritual ini dipimpin oleh tetua nuada (ketua adat) dengan cera atau mencecerkan darah hewan sembelihan ke mora atana (tanah) dan mora abinangga (sungai) diikuti dengan pembacaan mogane (mantra-mantra) serta benda-benda adat termasuk sesajen agar rotasi kehidupan terus berputar seiring keseimbangan antara sisi minus dan sisi plus. Ada proses dialogis antara tertua nuada dan penjaga tanah pun air selama mogane dibacakan.
Di sisi lain, proses rotasi kehidupan dalam artian ladang berpindah juga terus dilakukan orang kaili dalam rangka menjaga keseimbangan alam agar tetap harmonis. Agar dinamika kehidupan tetap berkesinambungan dan masih bisa bertahan hingga anak-cucu kelak hadir di bumi kaili. Sistem berpindah ini kerap disebut moraha. Penduduk asli sering melakukan hal demikian dalam mempertahankan dan menyeimbangkan alam hingga kini.
Ada yang lebih kompleks dalam memaknai paham keseimbangan oleh penduduk setempat, khusunya yang menetap di tepi pantai dan laut yakni mompaura. Ritual kompleks untuk penyembuhan segala macam bala yang diturunkan ke muka bumi untuk dihanyutkan ke laut lepas tepat dini hari setiap tahunnya. Sebelum ke ritual mompaura ada beberapa tahapan yang harus dilaksanakan, bahkan berbulan-bulan sebelumnya dalam rangka penerimaan mompaura oleh alam. Pensucian lewat do’a-do’a (notoba) dilakukan setiap jum’at dalam peringatan oleh manusia dengan kesadarannya bahwa setiap diri (kita) memiliki kesalahan baik segaja ataupun tidak. Upacara demikian lebih ditekankan untuk pengobatan dan tolak bala.
Dirasa atau tidak kehadiran budaya dalam mewarnai kehidupan menjadi sangat penting untuk memaknai dan mengingatkan manusia agar tidak berlaku sewenang-wenang terhadap alam. Di beberapa tempat di Indonesia juga mempunyai ragam yang hampir mirip dengan ritual (upacara) adat setempat oleh orang Kaili. Betapa tidak, budaya dan adat demikian meskipun bagi kalangan tertentu tidak penting tetapi dari budaya dan adat yang beraneka ragam inilah kita dapat klasifikasi kekhasan dalam menunjukkan ciri suku bangsa dalam euforia kehidupan. Sebab sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan sekaligus kelebihan, manusia seyogianya membumikan bumi dengan keseimbangan yang semakin tidak seimbang ini dengan akalnya, karena tidak ada diantara kita yang tahu kapan bumi ini akan habis masanya. Sedangkan dimana-mana kebengisan dan keserakahan manusia semakin menggila. Tanpa sedikitpun mempertimbangkan kehidupan sebelah (alam sesungguhnya) sebagai pemilik sah perjalanan bumi. Sesungguhnya, orang kaili yang bermukim di gunung dengan mempertahankan hidupnya dengan moraha penting eksistensinya dalam pembermaknaan ekosistem lingkungan agar terus berlangsung.
Namun tidak ada jaminan sampai kapan moraha bisa bertahan di tanah kaili sebab roda peradaban manusia semakin laju berputar dan menggerus pemikiran manusia untuk berpaham ekonomis dengan mendayagunakan alam sebagai pemuas sekaligus pemerkayaan diri. Entah![]